Suara seorang pengemis (Puisi)
Suara seorang pengemis
Dingin malam menerpa tubuhku,menusuk tulang dan pikiranku
Ku rapatkankan kaki dan tubuhku agar menyatu, berharap
setitik kehangatan dapat tercipta untuk menghangatkanku
Kesunyian malam mulai mendatangiku. Aku mencoba untuk
menutup mataku agar aku bisa beristirahat dari seluruh beban hidup ini walau
cuman sebentar. Tanpa sadar bulir-bulir airmata mulai mengalir di pipiku.
Pikirkupun melayang, diriku sendiripun berteriak di dalam
hati. Berusaha mengeluarkan semua emosi diri ini. Aku tak tau, aku tak tau ya
TUHANku dosa apa aku sehingga aku bisa seperti ini.
Tanah gersang yang kotor menjadi seperti tempat tidur yang
sangat empuk bagiku setiap malam, panas terik yang membakar menjadi topiku saat
siang, dingin angin malam yang menususuk seluruh tubuhku menjadi selimut bagiku
setiap malam.
Aku takut TUHAN, Aku takut yaa Sang Pencipta.Apakah Engkau
tak melihat derasnya air mata ini. Atau Apakah hati ini kurang mulia bagimu
untuk sekedar engkau pandang ketulusanya ya ALLAH.
Masih adakah semua yang Engkau sediakan bagiku, semua
kemalangan dan kekejaman dunia itu. Apakah masih belum cukup semua ini Ya
TUHANku.
tubuhku ini sudah tak
mampu lagi menampung semua itu ya TUHAN.Lihatlah anak-mu ini yang sudah begitu
lemah, daging pun tak terlihat di tubuhku ya TUHAN.
Benarkah adanya pertolongan-Mu, Benarkah Engkau mendengar
semua keluhan hatiku ini
Atau mungkin sebegitu banyakah dosaku sehingga engkau tak
mau lagi mendengar doaku ya TUHAN.
Maafkan aku,maafkan aku,maafkan aku.
Aku tak mampu menjalankan semua perintah-Mu, aku tak mampu
menjadi murid yang Engkau mau.
Ampuni aku,Ampuni aku.
Sepertinya tubuhku sendiri sudah menyerah akan keadaanku di
dunia.
Matakupun sepertinya sudah tak mau lagi melihat semua penderitaan
yang menanti.
Kubuka mataku perlahan.
Aku masih disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar